Selasa, 28 November 2017

EXPLORE TOBA DAY 3 (Enjoying Samosir)

Di hari ke tiga, kami lebih milih buat nyantai. Nggak terlalu mikirin destinasi. Karna udah kecapean di dua hari sebelumnya. So, pagi-pagi lebih milih nyantai naik sepeda yang disewa di hotel tempat kami nginap dan keliling sekitar Tuk-tuk aja. So, here we are...




Puas sepedaan, lanjut cari makan. Beli nasi bungkus, makannya di taman hotel


Kenyang makan, lanjut foto-fotoooo..



Berhubung udah siang, selanjutnya langsung bersih-bersih karna kami ambil penyebrangan dengan kapal fery yang sore. Jadi sebelum nyebrang bisa keliling Tomok dulu sebentar



Dan langsung cus pelabuhan buat balik ke Medan. Rencana sih memang mau pulang balik ke Medan. Rencana sih gituuu.. Tapi tiba-tiba kepikiran rencana lain. Hahahhaa..

Daaan.. bersambung ke postingan selanjutnya yaaaa :)

EXPLORE TOBA DAY 2 (Air Terjun Efrata & Aek Sipitu Dai)

Hari ke dua ini dimulai buat nyinggah ke Air Terjun Efrata. Sama seperti sebelumya, kami semua belum ada yang pernah ke sini. So, yang bisa diandalkan cuma G-maps, peta Pulau Samosir yang sebelumnya udah didownload, dan pastinya nanya ke penduduk sekitar kalau kira-kira nyasar. Untuk menuju ke Air Terjun Efrata ini juga nggak gampang. Jalanan yang nggak mulus, most of all adalah batu, bukan aspal. Penunjuk jalan juga belum ada saat itu. Mungkin sekarang udah ada karna namanya juga udah mulai dikenal.

Karna jalan yang dilalui juga semakin nggak nyantai, akhirnya atas saran penduduk sekitar, mobil yang kami bawa pun dititipin di salah satu rumah penduduk, dan sisanya dilanjutin dengan jalan kaki sekitar 15-20 menitan. Cuaca juga tiba-tiba kurang bersahabat. Yap, hujan!! Neduh sebentar di sebuah kedai sambil beli beras dan telur untuk makan siang kami. Jalan kaki pun dilanjutkan. Tapi berhubung hujan semakin deras, kami mutusin buat makan siang dulu (baca: masak dulu) di kedai dekat jalan masuk ke air terjun. Dan beginilah makan siang kamiiii

Nasi merah plus telur rebus. Sederhana tapi ngangenin

Kenyang makan, ditambah hujan yang juga ikutan reda, kami pun langsung turun ke bawah menuju air terjunnya. Kondisinya saat itu bisa dibilang sangat-sangat alami. Dan kembali merasa sangat kecil kalau dibandingin air terjun setinggi ini.


Puas menikmati indahnya Air Terjun Efrata, kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Aek Sipitu Dai. Salah satu objek wisata yang harusnya jadi salah satu andalan wisata Pulau Samosir, tapi sangat disayangkan kondisinya sangat mengecewakan untuk kami saat itu. Dari luar kelihatan nggak terawat, agak kotor. Di dalam nya juga malah dijadikan tempat untuk mencuci baju oleh penduduk sekitar. Padahal bisa jadi sesuatu yang menarik kalau saja bisa lebih terawat, ditambah lagi dengan cerita rakyatnya. Tapi berhubung udah nyampek, kita nikmati sajalah :)

Aek Sipitu Dai katanya punya 7 rasa. Setelah dirasa, saya pribadi cuma bisa ngerasa manis dan tawar aja, agak sepat-sepat gitu, berasa minum air soda, tapi lama-lama agak berasa lengket di mulut. Teman-teman yang lain juga ngerasa sama. Oiya, di sini pancurannya dipisah untuk laki-laki dan perempuannya. Tapi kayaknya rasanya sama aja sih


Kurang tau gimana kondisi objek wisata ini sekarang. Agak sayang sebenarnya kalau nggak dirawat. Karna sejujurnya dari semua objek wisata Pulau Samosir yang udah saya datangi, Aek Sipitu Dai ini yang paling mengecewakan. Beberapa objek wisata lain masih sering saya datangi ulang setiap ke Samosir. Tapi ntah kenapa nggak untuk objek wisata ini. Tapi ya semoga semakin bagus dan udah semakin terawat. Kembali lagi, saya ke sininya tahun 2014. Jadi ya harapannya semoga sekarang udah jauh lebih baik :)

Jumat, 10 Februari 2017

EXPLORE TOBA DAY 1 (Medan-Dairi-Pangururan)

“ Yang terlalu direncanakan itu biasanya nggak jadi. Yang tiba-tiba direncanakan malah jadi.”

Ntah kenapa sering kejadian begitu. Sama kayak cerita kali ini, Explore Toba. Sebelum aku cerita, mau infoin dulu, kalo ini perjalanannya udah 3 tahun yang lalu. Tapi karena satu dan lain hal, baru sempat selesai sekarang postingannya. Jadi, jalan, tempat wisata dan fasilitas yang dikunjungi selama trip ini pasti udah banyak berubah, kebanyakan sih berubah jadi lebih cantik. So, let's check it out ;)

-------------

Nggak pernah benar-benar ngerencanain ini, tapi ya kejadian. Perencanaan? Cuma 1 hari ajaaa.. Nah, kebetulan tanggal 17 Februari 2014 lalu, 2 hari sebelum berencana mau Explore Toba, kami (Aku, Rizka, Ajok, Dira, Vina) ke Kabanjahe buat ngantar bantuan untuk pengungsi dari bencana Gunung Sinabung yang sampai sekarang belum reda juga erupsinya. Dan karena sesuatu dan lain hal, kami diharuskan balik ke sana lagi 2 hari kemudian. Dan tiba-tiba tercetuslah ide buat langsung ngetrip ke Prapat, tepatnya explore Toba.

Perencanaan yang express bukan berarti persiapan kami pun express. Aku sempat download peta wisata Samosir dan buat list apa aja yang ada di sana. Dira bahkan sampek udah bawa persiapan masak, kompor gas mini, lengkap sama panci mini nya. Kalo nggak salah nyebut nya nesting ya (?) Kami juga sempat beli mie instan, beras, telur, bumbu masak, kecap, saos di perjalanan. Seru kalo diingat.

Perjalanan dimulai dari Kabanjahe habis nyelesain tugas ngantar bantuan buat Sinabung. Oiya, Alhamdulillah waktu itu kami dapat oleh-oleh jeruk segar langsung dari kebun punya salah satu penduduk di sana. Dan banyaknya nggak tanggung-tanggung.

Trip pun dimulai. Kami ambil jalan lewat Pangururan supaya bisa liat sunrise di Menara Pandang Tele. Pas lewat Sidikalang, kami juga sempat nyinggah di Air Terjun Lae Pendaroh, letaknya persis di pinggir jalan. Nggak bisa buat mandi-mandi sih, cuma bisa untuk foto-foto. Sayangnya untuk foto di situ aja diwajibkan bayar per orang.



Oke, perjalanan pun dilanjutkan karna emang udah sore juga. Nggak mau juga malam-malam terjebak di jalanan yang dikelilingi hutan gelap. Tambah lagi kami juga nggak tau jalanan sekitar situ, hanya mengandalkan peta. Sebelum jalan lebih jauh, kami sempat nyinggah ke Ind*mar*t buat beli persediaan makanan. Takutnya kalo udah masuk lebih jauh, agak susah nemuin mini market yang juga jual gas mini (*ceritanya kan kami bawa kompor mini, jadi perlu beli gas nya :P).

Lanjut jalan menuju Menara Pandang Tele. Jadi ceritanya waktu itu kami belum ada yang pernah ke sana, jadi entah gimana ceritanya kami nggak nemu itu tempat. Mungkin karna udah malam juga, jadi nggak pala keliatan tempatnya, ditambah lagi nggak ada penunjuk jalan sama sekali buat ke sana. Dan ternyata kami udah beberapa kali bolak-balik ngelewatin Menara Tele nya. Nyadarnya waktu berhenti istirahat buat makan malam di salah satu warung. Sambil makan, sambil nanya ke Bapak Ibu yang punya warung di mana lokasi persisnya.

Selesai makan, perjalanan dilanjut ke Menara Tele dan Alhamdulillah nggak pakai lama udah nyampek. Ternyata letaknya persis di pinggir jalan dan pas di tikungan. Karna udah malam dan rencana ke sini juga karna pengen liat sunrise, jadilah kami nginap di sini satu malam. Nggak ada penginapan, tapi ada kayak pondok kecil gitu kalau mau istirahat, dan kalau tahan sama udara dinginnya ya. Kami yang cewek tidur di mobil, yang cowok di pondok pake jaket plus sleeping bag.

Paginya langsung naik ke menara buat liat sunrise. Tapi sayangnya pagi itu terlalu berkabut, jadi nggak keliatan mataharinya.


Menara Pandang Tele [2014]

Setelah agak terangan, kami pun mutusin buat sarapan, masak sendiri, masak air untuk buat popmie. Hahahaa..


Abis sarapan langsung foto-foto dan cus lanjut jalan.

Minggu, 25 September 2016

TIME MACHINE

Feels like in a time machine.

Saat “kita” belum berubah menjadi “aku, kamu, dia dan mereka” seperti sekarang.
Saat kita masih saling bertanya kabar, bercerita satu sama lain, tertawa atas kebodohan masing-masing, berjalan bersama, berbicara tentang masa depan.

I want to stay at that time.
Mungkin lebih tepatnya “stay with you all”.

Tapi ini sekarang, aku sudah kembali di sini, ke saat ini. Aku bahkan udah lupa alasan kenapa kita jadi begini. Karna sebenarnya itu sama sekali bukan hal yang besar.

Ya, mungkin ego kita masing-masing yang lebih besar. Dan mungkin kalian cuma pengen jadiin “kita” sebagai masa lalu.

Hahahaha..
Aku bahkan masih menggunakan kata “mungkin”. Kemungkinan. Bisa jadi benar, tapi masih ada harapan kalau itu salah. Ah, bahkan aku masih berharap.

Satu hal yang pasti, don’t expect something too much.

Boleh berharap, tapi jangan terlalu banyak. Apalagi kalau berharapnya sama manusia. Kalau nggak kesampaian, jatuhnya sakiit..

Udah ah, ujung- ujungnya baper.

Selamat tengah malam menjelang pagii ☺

Jumat, 19 Februari 2016

PRIORITAS

Satu hal yang berarti penting, tapi terkadang, bahkan sering dikalahkan oleh keinginan.

Pengen beli ini, pengen beli itu
Pengen punya ini, pengen punya itu
Pengen makan ini, pengen makan itu
Pengen ke sini, pengen ke situ

Banyak hal yang diinginkan, tapi pentingkah?

Hidup nggak selalu tentang bersenang-senang. Ada banyak hal yang menunggu buat dikerjakan, dicapai dan diwujudkan. Mungkin bisa dibilang kewajiban. Hal penting yang seharusnya didahulukan.

Apa mimpimu?
Sudah sampai mana dia berjalan?

Keep your focus.
Priority is first !!

Tags: selfreminder not

Kamis, 31 Desember 2015

Random Post, Random Day

Hayalan-hayalan itu awalnya aku anggap sebuah doa. Sebuah "to do list" untuk hidupku. Ya, pada awalnya..

Seiring proses, memang selalu ada hambatan. Nggak ada jalan yang mulus. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang selalu mengingatkan, ada yang melupakan, bahkan nggak mau diingatkan pun ada. Ada yang memberi semangat, ada juga yang mematahkan semangat. That's life.

Tinggal lah dengan yang datang, selalu mengingatkan dan memberi semangat.

Bergantung pada satu hal itu yang mungkin membuat sering serba salah. Semakin dipaksa kok ya malah buat pusing sendiri seringnya. Stagnan, jalan di tempat.

Hey, mimpiku masih banyak. Hayalanku juga pengen terwujudkan.
Apa aku harus jalan sendiri?

Minggu, 11 Oktober 2015

KAWASAN EKOWISATA BUKIT LAWANG

Maret tahun 2014 lalu, aku bareng 3 orang teman yang semuanya cewek-cewek mutusin buat liburan ke Bukit Lawang. Tadinya sih rencana nggak mau nginap, pengennya jalan-jalan aja sambil mandi-mandi sungai gitu. Akhirnya rencana tinggal rencana, berhubung satu-satunya yang bisa bawa mobil kecapean dan udah kesorean mau pulang, jadilah kami nginap semalam di sini. Tambah lagi karna ditawari buat trekking ke hutan ngeliat orang hutan dan monyet-monyet yang dilindungi sambil kasi makan.


Penginapan yang dipilih itu Wisma Sibayak Bukit Lawang. Letaknya strategis sih, pas di depan sungai, nggak gitu jauh dari tempat parkir, cuma nyebrang jembatan sekali. Kamarnya besar, bisa 4 orang sekamar. Penginapannya juga punya resto sendiri, pilihan makanannya juga banyak, mulai dari menu ala Indonesia atau pun ala bule. Harga nya juga masih ramah di kantong. Menu favorit aku pribadi itu ifumie goreng sama buah-buah segarnya.



Pemilik dan guide-guide di sini juga ramah-ramah, mau gabung cerita-cerita, ngiringi makan sambil dimainin gitar, trus main kartu sampek ngantuk. Paginya langsung sarapan dan siap-siap trekking. Trekking sih trekking, lipstik harus ON. Hahaha..


Ditemenin sama Ricky dan Bang Uncu, trekking pun dimulai. Baru beberapa menit jalan kita langsung jumpa ular. Ular kecil siih.. tapi ya namanya ular tetap aja ngeri liatnya. Lanjut jalan, nggak lama nyampek di gerbang masuk ke Hutan Leuser.


Hanya selang beberapa menit, kita udah langsung bisa ngeliat beberapa monyet kecil bergelantungan dari pohon ke pohon, ada juga orang utan yang lumayan gede.



Agak waw bisa ngeliat orang utan langsung di habitat aslinya kayak begini. Selama ini kalau pun ngeliat ya di kebun binatang, buku atau TV. Nah ini, langsung!! Ngeliat sarang mereka di atas pohon, gimana interaksi mereka sama pengunjung. Walaupun keren, tapi ya tetap harus waspada juga. Namanya juga hewan yang hidup di habitat aslinya, bisa dikatakan hewan liar. Beberapa mungkin masih dalam kategori aman, tapi ya ada juga yang usil dan ngeri. Salah satunya Ucok Baba. Ini bukan nama orang, tapi nama salah satu orang utan yang tinggal di kawasan ini. Dia nya sempat menghalangi jalan kita dan ngejar juga, mungkin karna dia sempat ngeliat pisang yang dibawa sama guide kami. Sempat takut karna dikejar si Ucok Baba, alhamdulillah berakhir dengan aman karna Uncu ngasi beberapa buah pisang supaya dia mau berhenti ngejar dan ngasi kami jalan.

Kata ranger nya, orang utan yang paling ngeri itu ada 2 ekor di sini, Ucok Baba dan Mina. Tapi katanya yang lebih jahat itu Mina. Walaupun dia betina, tapi ya mungkin dia ibarat ketua gank nya yaa.. Jumpa Ucok Baba aja udah jantungan, apalagi jumpa si Mina. Jadi buat yang mau trekking, jangan sok-sok an jalan sendiri lah. Bawa guide yang emang ngerti kawasan itu wajib hukumnya buat ngehindari hal-hal yang nggak diinginkan. Safety First !!




Puas trekking, lanjut mandi-mandi di sungaaaai.. Segeeeer.. Airnya jernih, udaranya juga masih bersih. Seru lah.. Sebenarnya lebih seru lagi kalo bisa tubbing abis trekking, karna nggak cocok harga kemarin, jadi ya pulangnya jalan kaki. Tapi ya tetap ada cerita.


Sepanjang jalan balik ke penginapan, beberapa kali ngeliat bule. Ya, di sini emang kebanyakan bule sih pengunjungnya. Kalaupun ada orang kita yang ke sini, biasanya pulang hari dan cuma sekedar buat piknik, mandi-mandi di sungai. Sangat jarang ada yang mau trekking liat orang utan. Mungkin karna buat kita udah biasa ngeliat monyet atau orang utan di Indonesia. Tapi nggak buat bule-bule itu.


Iyes, Indonesia merupakan rumah terbesar bagi Orang Utan. Dan karna populasinya juga semakin berkurang karna habitatnya mulai terganggu oleh kita juga sebagai manusia, jadi ya keberadaanya sendiri sangat dilindungi. Yuk jaga hutan kita. Kalau hutan sebagai habitat mereka aman, kita juga bakalan aman pastinya. Toh kita juga pasti saling bergantung kan.. 